Makna wudhu

 WUDHU ADALAH PELAMPUNG PENYELAMAT DARI BANYAK HAL.  


BER WUDHU LAGI LAH SEBELUM WUDHU BATAL.


Wudhu bukan sekedar syarat Sah nya banyak Ibadah, seperti Sholat, Thawaf dll.

Kecuali kondisi tertentu bisa mengantinya dengan tayammum. 


Wudhu juga bukan sekedar bersih bersih badan, tapi Wudhu sungguh  mengandung banyak keistimewaan seperti yang ditegaskan Rasulullah SAW sbb;


TRUE STORIES:  


1. Rasulullah SAW menjelaskan, bahwa keistimewaan Wudhu di antaranya, khilaf, dosa dan kesalahan dari setiap anggota tubuh yang dibasuh air Wudhu akan berguguran.


2. Maka, orang yang usai ber Wudhu lalu Sholat Sunnah dua rakaat, nilainya di sisi Allah seperti bayi yang baru lahir, tanpa dosa.


Demikian ditegaskan Rasulullah SAW :


مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَقْرَبُ وَضُوءَهُ ثُمَّ يَتَمَضْمَضُ وَيَسْتَنْشِقُ وَيَنْتَثِرُ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَاهُ مِنْ فَمِهِ وَخَيَاشِيمِهِ مَعَ الْمَاءِ حِينَ يَنْتَثِرُ، ثُمَّ يَغْسِلُ وَجْهَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ مِنْ أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ مِنْ أَطْرَافِ أَنَامِلِهِ، ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ مِنْ أَطْرَافِ شَعَرِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ كَمَا أَمَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا قَدَمَيْهِ مِنْ أَطْرَافِ أَصَابِعِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَقُومُ فَيَحْمَدُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْلٌ، ثُمَّ يَرْكَعُ رَكْعَتَيْنِ إِلَّا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.

(رواه احمد)


Artrinya: 

“Tidaklah seorang pun dari kalian yang akan ber Wudhu,  lalu berkumur, menghirup air, dan melepaskannya, kecuali akan keluar dosa dosa dari mulut dan hidungnya bersama air. 

Kemudian, tidaklah ia membasuh wajah seperti yang diperintahkan Allah kecuali dosa dosa wajahnya akan keluar dari ujung-ujung jenggotnya bersama air. 

Kemudian tidaklah ia mencuci kedua tangannya hingga siku kecuali dosa dosa tangannya akan keluar dari ujung jari-jarinya. Kemudian, tidaklah ia mengusap rambutnya kecuali dosa dosa kepalanya akan keluar dari ujung-ujung rambutnya bersama air. 

Kemudian, tidaklah ia membasuh kedua kakinya hingga dua mata kaki, sebagaimana yang diperintahkan Allah, kecuali dosa dosa telapak kaki akan keluar dari ujung jari-jarinya bersama air. 

Kemudian, tidaklah ia berdiri dan mengucap hamdalah dan memuji Allah dengan pujian yang pantas untuk Allah,  kemudian shalat dua rakaat, kecuali ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti pada saat dilahirkan oleh ibunya,” 

(Hadits Sahih Riwayat Al Imam Ahmad).


3. DItegaskan oleh Rasulullah SAW bahwa orang yang tidur dalam keadaan ber Wudhu, didoakan dan dimintakan ampunan oleh Malaikat. 


Hadits Rasul SAW :


مَنْ بَاتَ طَاهِرًا فِي شِعَارٍ طَاهِرٍ بَاتَ مَعَهُ مَلَكٌ فِي شِعَارِهِ فَلَا يَسْتَيْقِظُ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا. ( رواه ابن حبان)


Artinya؛

“Siapa yang tidur bermalam dengan keadaan  ber Wudhu di tempat yang baik,  maka Malaikat bermalam bersamanya di tempat baiknya itu. Dan tidaklah dia terbangun satu saat pun di waktu malam kecuali Malaikat tadi berdoa untuknya;

Yaa Allah, ampunilah hamba-Mu fulan ini,  karena dia tidur dalam keadan suci ber Wudhu”.

(Hadits Sahih Riwayat Al Imam Ibnu Hibban).


4. Orang yang tidur digambarkan Rasulullah SAW sebagai orang yang  terbelenggu dengan 3 belenggu. 


Namun, jika ia terbangun dan ber Wudhu, maka belenggu-belenggu tersebut akan terlepas. 

Dan apa pun hajat dan keinginannya akan terkabulkan.


Rasulullah SAW bersabda:


رَجُلَانِ مِنْ أُمَّتِي يَقُومُ أَحَدُهُمَا مِنَ اللَّيْلِ فَيُعَالِجُ نَفْسَهُ إِلَى الطَّهُورِ وَعَلَيْهِ عُقَدٌ فَيَتَوَضَّأُ، فَإِذَا وَضَّأَ يَدَيْهِ، انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، وَإِذَا وَضَّأَ وَجْهَهُ، انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، وَإِذَا مَسَحَ رَأْسَهُ، انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، وَإِذَا وَضَّأَ رِجْلَيْهِ، انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَيَقُولُ الرَّبُّ لِلَّذِينَ وَرَاءَ الْحِجَابِ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي هَذَا يُعَالِجُ نَفْسَهُ، مَا سَأَلَنِي عَبْدِي هَذَا فَهُوَ لَهُ

(رواه ابن حبان )


Artinya:

“Dua orang dari ummatku dimana salah satunya bangun malam dan melangkah untuk ber Wudhu, sedang dia terbelenggu beberapa belenggu, kemudian ber Wudhu. 


Ketika ber Wudhu membasuh kedua tangannya, terlepaslah satu belenggu. 

Ketika ber Wudhu membasuh wajahnya, maka terlepaslah belenggu lainnya. 

Ketika ber Wudhu mengusap kepalanya, maka terlepaslah belenggu lainnya. 

Ketika membasuh kedua kakinya, maka terlepaslah belenggu berikutnya. Kemudian, Allah Berfirman untuk  mereka yang ada di balik Hijab;

Lihatlah Hamba-Ku ini, ia ingin menyelamatkan dirinya, maka apa pun yang ia minta kepada-Ku,  maka permintaan itu adalah tercurahkan untuknya,’” 

(Hadits Saih R. Ibnu Hibban).


5.  Rasulullah SAW juga menjelahkan bahwa Wudhu mengangkat "derajat kehidupan" seseorang jika Wudhu dilakukan dengan sempurna.


Suatu ketika, Rasulullah SAW  bertanya kepada para Sahabat;


أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ تَعَالَى بِهِ الْخَطَايَا وَتُرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتُ؟ 

قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي السَّبَرَاتِ، وَالصَّبْرُ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَالِكُمُ الرِّبَاطُ.

(رواه مسلم)


Artinya:

“Maukah kalian aku tunjukkan kepada kalian apa yang membuat Allah menghapus kesalahan dan mengangkat derajat hidup kalian?”.

Para sahabat menjawab,;

“Tentu, yaa Rasulallah” 


Rasulullah:

“yaitu  menyempurnakan Wudhu di pagi hari yang dingin, bersabar menghadapi  yang tidak disenangi, memperbanyak langkah ke Masjid, dan menanti shalat berikutnya setelah shalat. Itulah Ribaath,”

(Hadits Riwayat Al Imam Muslim).


Ribaath, adalah; Benteng pertahanan dari serangan musuh.


6. Lebih istimewa lagi, apabila ber Wudhu lagi saat  masih dalam keadaan memiliki Wudhu sebelumnya. 


Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad, disebutkan, ada sepuluh kebaikan telah menanti orang yang ber Wudhu dalam keadaan belum batal Wudhu:


“Siapa yang ber Wudhu dalam keadaan masih ada Wudhu, maka dicatat baginya sepuluh kebaikan.”


7. Terang dan tidaknya wajah seseorang pada hari Kiamat nanti, salah satunya ditentukan pada kebiasan Wudhunya di Dunia ini.

Wudhu-lah yang memberikan sinar pada wajah dan tangannya. Dan sinar 

itu akan jelas terlihat. 


Makanya Rasulullah SAW menganjurkan agar melebihkan bagian tubuh yang dibasuh pada saat ber Wudhu. Lebih baik lebih dari pada kurang.


Demikian dijelaskan dalam Hadits Riwayat Abu Hurairah sbb;


Suatu ketika, Sahabat Rasul bernama Nu‘aim Bin ‘Abdullah menyaksikan Abu Hurairah sedang ber Wudhu di belakang Masjid dan terlihat ia mengangkat kedua lengan atasnya. Kemudian, Abu Hurairah  RA menghadap ke arah Nu‘aim dan mengatakan bahwa dirinya mendengar Rasulullah bersabda:


إِنَّ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ هِيَ الْغُرُّ الْمُحَجَّلُونَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ مَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ.

( رواه احمد )


Artinya;

"Sungguh,  ummatku pada hari Kiamat adalah Al-Ghuur dan Al-Muhajjaluun karena bekas Wudhu. 

Siapa saja yang mampu memanjangkan Ghurr-nya maka lakukanlah! 

(Hadits Sahih Riwayat Al Imam Ahmad).


POINTERS;

1. Jangan malas berwudhu. Sering seringlah ber Wudhu.


2. Sempurnakan Wudhu. Lebihkan batas tubuh yang dibasuh saat ber Wudhu.


3. Usahakan ber Wudhu lagi sebelum Wudhu batal.


Semoga Allah SWT senantiasa memudahkan kita untuk selalu ber Wudhu, menjaga Wudhu, dan menyempurnakan Wudhu.

Oleh;

A.Hamid Husain

Alumni:

-Pondok Modern Gontor, Ponorogo.

-King Abdulaziz University, Jeddah.

-Umm Al Qura University, Makkah.

Alfaatihah

Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini